TRAUMA PEREMPUAN DALAM KETIDAKRAMAHAN DUNIA
Pagi ini, bertepatan dengan diperingatinya Hari Perempuan Internasional, aku membaca sebuah novel dari Kak Ika Natassa, Langit Mengambil.
Seperti kebanyakan novel, halaman pertama pastinya melulu perkenalan tokoh-tokoh yang terlibat, dan cukup menarik.
Dengan bermodalkan ketertarikan itulah, aku membiarkan diri hanyut dalam cerita rekaan sang penulis. Lembar demi lembar halamannya kubuka, dan aku kian jatuh suka.
Namun, pada halaman ke 45 (kalau nggak salah) aku agak menahan napas sembari tertegun sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk menutup buku berkaver manis tersebut.
Nggak... bukan karena nggak suka apalagi jelek, hanya saja mengetahui apa yang menimpa si tokoh utama perempuan dalam novel itu berhasil memantik kenangan buruk yang selama ini mati-matian kukubur dalam ingatan. Kenangan kejadian yang menimpaku dan beberapa teman perempuanku bertahun-tahun lalu. Kenangan buruk yang barangkali pernah dialami banyak perempuan di luar sana, meski pada akhirnya memilih bungkam.
Jika dibandingkan dengan yang lain, mungkin saja kejadian yang menimpaku malam itu bukan sesuatu yang besar. Jika dibandingkan dengan yang dialami tokoh novel Kak Ika Natassa, mungkin ceritaku nggak ada apa-apanya. Namun sialnya cukup berhasil melahirkan trauma berkepanjangan bagiku pribadi. Pernah diam-diam takut ke luar rumah sendirian apalagi sampai harus naik kendaraan umum seorang diri tanpa adanya pendamping.
Jangan ditanya seperti apa takutnya, keringat dingin dibarengi tangan yang gemetaran hanya contoh kecilnya.
Bagaimana nggak trauma dan ketakutan? Bayangkan saja, anak kelas satu SMP yang masih dibilang kecil malam itu harus melihat wajah beringas seorang lelaki dewasa di bawah pengaruh alkohol yang hanya memakai celana dalam putih, lelaki yang bertingkah seperti srigala kelaparan, dan berusaha mengejar sekawanan itik untuk dimangsanya. Sialnya itik itu adalah kami.
Iya.. kamu nggak salah baca. Kejadian mengerikan itu memang terjadi pada malam hari, ketika sebagian orang sudah terlelap ke dasar mimpi, sementara kami? Berusaha melarikan diri sampai rasanya seperti mau mati.
(***)
Malam itu aku dan beberapa teman mengikuti Jurit Malam salah satu organisasi sekolah. Diharuskannya kami melakukan perjalanan dalam beregu dari satu pos ke pos lainnya untuk menjawab pertanyaan dari Kakak-kakak senior atau melakukan challenge dari mereka. Dalam ingatan yang mulai mengabur itu, regu kami diisi oleh beberapa anak perempuan.
Perjalanan menuju pos satu dan pos dua berjalan lancar, pertanyaandan challenge dari mereka kami lahap tanpa hambatan.
Namun, dalam perjalanan menuju pos terakhirlah kejadian mengerikan itu terjadi.
Di bawah langit gelap dan udara dingin, kami berjalan berbaris menembus perkampungan penduduk yang jendela-jendela serta pintu rumahnya sudah tertutup rapat ditinggal tidur penghuninya. Namun, di kejauhan terdengar sayup-sayup alunan musik yang nggak cukup mengusik untuk beberapa saat sampai tibalah rumah itu kami lihat. Sebuah rumah yang pekarangannya disesaki sekelompok anak muda, bahkan musik yang sebelumnya sayup-sayup pun terdengar lebih jelas karena rupanya dari pekarangan itulah sumber suara berasal.
Kami pikir sekelompok anak muda itu bagian dari Kakak-kakak pembina organisasi, jadi selayaknya junior bertemu senior, kami pun memberi salam sembari permisi untuk melanjutkan perjalanan.
Namun ada yang aneh, salah satu dari mereka merangsek keluar dari kerumunan sembari meracau nggak jelas dan berjalan sempoyongan. Kami yang belum paham apa yang tengah terjadi masih diam di tempat sampai si pemuda itu berdiri cukup dekat dan kami menjerit mendapati ia hanya memakai celana dalam.
Sialan si pemuda itu malah terkekeh-kekeh menyebalkan yang diikuti pemuda lain di belakangnya. Dari situlah alarm bahaya menyala di kepalaku dan teman-teman lain, jadi nggak menunggu lama kami langsung bubar barisan untuk melarikan diri.
Namun sialan, seperti tertantang, si pemuda bercelana dalam itu malah ikut berlari mengejar kami. Malam itu aku belum paham apa yang tengah kami alami, yang kutahu aku harus lari dengan jantung nyaris copot karena ketakutan. Takut kami terpisah, takut kami terjatuh dan takut kami berhasil ditangkap.
Jika berhasil ditangkap oleh mereka, apa yang akan terjadi pada kami? Pertanyaan itu kubawa di sepanjang perlarian yang rasanya nggak berujung.
Dalam ingatan yang sudah mengabur, aku masih nggak tahu sejauh apa dan seberapa lama kami berlari malam itu, tahu-tahu kami sudah berlari di tanah lapang berumput. Dan menyadari suara musik itu sudah tertinggal jauh di belakang sana, kami tahu kalau kami sudah aman terlebih ada kakak senior yang menemukan kami.
Meski malam itu kami selamat, bayangan lelaki bercelana dalam dengan wajah beringas saat mengejar kami terpatri jelas dalam ingatan.
Meski malam itu aku masih belum paham apa yang sebenarnya menimpa kami, ketakutan itu menyublim tanpa kata menjadi sebuah trauma.
Dan saat pada akhirnya bertahun-tahun kemudian aku menyadari bahwa malam itu yang kami alami adalah sexual harrasement, aku berharap teman-teman perempuanku yang malam itu bersama-sama berjuang menyelamatkan diri bersamaku, dijauhkan dari trauma berkepanjangan.
Dan hari ini, ketika trauma itu sudah bisa teratasi, aku memberanikan diri untuk membagianya dalam scuil cerita yang ditulis pada acara Potret Puan Dalam Kata.
Cerita yang mengingatkan kita bahwa dunia masih belum ramah untuk perempuan karena di luar sana, ada cerita serupa bahkan sayangnya lebih memilukan dan sampai menghilangkan nyawa 😭😭
Cerita yang kuharap bisa ditemukan, dibagi dan menginspirasi perempuan lainnya.
Happy International Women's Day!
Mari rayakan dengan menulis!
Terima kasih pada Elexmedia dan Temannulisclub yang sudah menginisiasi acara hari ini serta merayakannya bersama kami.
Terima kasih juga untuk Kak
@sefryanakhairil sebagai narasumber. Sukses untuk buku barunya yang kebetulan ikut dibedah dalam acara ini. Judul bukunya
Lebih Dari Sekadar Cinta (kamu harus baca, dan aku akan bikin reviunya tersendiri karena aku dapat buku itu langsung dari beliau 😁)
Terima kasih untuk perempuan di luar sana, kalian hebat!


Comments
Post a Comment